KAMPANYE KELAPARAN DAN KURANG GIZI

And Indonesia present....
Beginilah Nasib anak Indonesia dan temanku Anul waktu dulu....

Di sebuah toko retail, 4,820 kaleng sup dipajang sedemikan rupa sehingga membentuk kata 'Hunger'. Display ini sengaja dibuat, agar jika pembeli mengambil kaleng tersebut, maka lama-lama tulisan ini akan 'menghilang', yang seolah-olah mensimbolkan dihapuskannya kelaparan di dunia. Kampanye ini diatur agar setiap pembelian kaleng sup ini, langsung menyumbang ke sebuah 'food bank'. Dibuat oleh Leo Burnett Toronto, Canada.


sumber: directdaily.blogspot.com






Pengertian Nirmana


Nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Nirmana dapat juga diartikan sebagai hasil angan-angan dalam bentuk dwimatra, trimatra yang harus mempunyai nilai keindahan. Nirmana disebut juga ilmu tatarupa. Elemen –elemen seni rupa dapat dikelompokan menjadi 4 bagian berdasarkan bentuknya.
1. Titik, adalah suatu bentuk kecil yang tidak mempunyai dimensi. Raut titik yang paling umum adalah bundaran sederhana, mampat, tak bersudut dan tanpa arah.
2. Garis, adalah suatu hasil goresan nyata dan batas limit suatu benda, ruang, rangkaian masa dan warna.
3. Bidang, adalah suatu bentuk pipih tanpa ketebalan, mempunyai dimensi pajang, lebar dan luas; mempunyai kedudukan, arah dan dibatasi oleh garis.
4. Gempal, adalah bentuk bidang yang mempunyai dimensi ketebalan dan kedalaman.

Penyusunan merupakan suatu proses pengaturan atau disebut juga komposisi dari bentuk-bentuk menjadi satu susunan yang baik. Ada beberapa aturan yang perlu digunakan untuk menyusun bentuk-bentuk tersebut. Walaupun penerapan prinsip-prinsip penyusunan tidak bersifat mutlak, namun karya seni yang tercipta harus layak disebut karya yang baik. Perlu diketahui bahwa prinsip-prinsip ini bersifat subyektif terhadap penciptanya.

Dalam ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama untuk tujuan komunikasi dari sebuah karya desain.
1. Ruang Kosong (White Space), Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.
2. Kejelasan (Clarity), Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya. Bagaimana sebuah karya tersebut dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna ganda.
3. Kesederhanaan (Simplicity), Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang. Kesederhanaan seing juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh.
4. Emphasis (Point of Interest), Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, merupakan pengembangan dominasi yang bertujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai artistic.


Sumber : Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain, Drs. Sadjiman Ebdi Sanyoto, Yogyakarta 2005

Tipografi Kurir Komunikasi Visual

Ketika seseorang berbicara kepada orang lain, sesungguhnya orang tersebut sedang melafalkan beberapa lambang bunyi yang arti dan maknanya telah disepakati bersama.
Lambang bunyi, dalam konteks ini, divisualkan dalam bentuk simbol-simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dimengerti maksudnya. Dalam peradaban modern, lambang bunyi yang berbentuk huruf memiliki peranan penting dalam sebuah proses komunikasi antarmanusia.
Huruf dan tipografi dalam perkembangannya menjadi ujung tombak guna menyampaikan pesan verbal dan pesan visual kepada seseorang, sekumpulan orang, bahkan masyarakat luas yang dijadikan tujuan akhir proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan atau target sasaran.
Huruf dan tipografi merupakan soko guru tunggal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Banyak orang sudah melek huruf, sudah pasti mengenal lambang bunyi tersebut. Mereka sudah pasti dapat mengeja, membaca, dan menuliskan lambang bunyi itu untuk berbagai kepentingan dan keperluannya masing-masing.
Huruf dan tipografi diyakini sebagai saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan secara genetikal. Dalam hubungannya dengan desain komunikasi visual, huruf dan tipografi adalah elemen penting yang sangat diperlukan guna mendukung proses penyampaian pesan verbal maupun visual.
Adalah menjadi sesuatu yang sulit dipahami manakala Anda sebagai seorang komunikator ketika sedang menyampaikan informasi yang terkait dengan produk atau jasa hanya mengandalkan aspek pesan visual yang berbentuk deretan gambar atau ilustrasi tanpa menerakan pesan verbal berbentuk susunan huruf yang dikemas dalam balutan pilihan tipografi yang persuasif dan komunikatif.
Hal itu barangkali bisa dilakukan sebagai salah satu strategi komunikasi untuk ‘’mencuri” perhatian khalayak sasaran. Tetapi perlakuan semacam itu harus segera dilengkapi dan dikunci dengan pesan verbal berupa susunan kata dan kalimat berdasarkan pilihan tipografi yang persuasif dan komunikatif.
Karena peranan huruf dan tipografi sangat penting dalam penyampaian informasi berbentuk pesan sosial atau pun komersial terkait keberadaan sebuah produk atau jasa, maka mutlak bagi desainer komunikasi visual untuk mengenali bentuknya, mengetahui dan memahami karakternya, serta dapat memanfaatkan potensi kekuatannya dalam sebuah perancangan komunikasi visual.
Tipografi dalam hal ini adalah seni memilih dan menata huruf untuk berbagai kepentingan menyampaikan informasi berbentuk pesan sosial atau pun komersial. Dewasa ini, perkembangan tipografi banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi digital.
Tipografi dalam konteks desain komunikasi visual mencakup pemilihan bentuk huruf, besar huruf, cara dan teknik penyusunan huruf menjadi kata atau kalimat sesuai dengan karakter pesan (sosial atau komersial) yang ingin disampaikan.
Huruf yang telah disusun secara tipografis merupakan elemen dasar dalam membentuk sebuah tampilan desain komunikasi visual diyakini dapat memberikan inspirasi untuk membuat suatu komposisi yang menarik. Sedangkan bentuk-bentuk tipografi itu sendiri dapat dipergunakan secara terpisah atau dapat pula dikomposisikan dengan materi lain seperti ilustrasi hand drawing atau pun image foto.
Sudah menjadi rahasia umum dalam ranah media komunikasi visual, tipografi merupakan unsur pokok yang tidak dapat dipisahkan. Dalam perkembangannya, ada lebih dari seribu macam huruf Romawi atau Latin yang telah diakui oleh masyarakat dunia. Tetapi huruf-huruf tersebut sejatinya hasil dari perkawinan silang dari lima jenis huruf berikut ini:
(1) Huruf Romein. Garis hurufnya memperlihatkan perbedaan antara tebal-tipis dan mempunyai kaki atau kait yang lancip pada setiap batang hurufnya.
(2) Huruf Egyptian. Garis hurufnya memiliki ukuran yang sama tebal pada setiap sisinya. Kaki atau kaitnya berbentuk lurus atau kaku.
(3) Huruf Sans Serif. Garis hurufnya sama tebal dan tidak mempunyai kaki atau kait.
(4) Huruf Miscellaneous. Jenis Huruf ini lebih mementingkan nilai hiasnya daripada nilai komunikasinya. Bentuknya senantiasa mengedepankan aspek dekoratif dan ornamental.
(5) Huruf Script. Jenis huruf ini menyerupai tulisan tangan dan bersifat spontan.
Sementara itu, Danton Sihombing (2001: 96) mengelompokkan keluarga huruf berdasarkan latar belakang sejarahnya:
(1) Old Style, jenis huruf ini meliputi: Bembo, Caslon, Galliard, Garamond.
(2) Transitional, jenis huruf ini meliputi: Baskerville, Perpetua, Times New Roman.
(3) Modern, jenis huruf ini meliputi: Bodoni.
(4) Egyptian atau Slab Serif, jenis huruf ini meliputi: Bookman, Serifa.
(5) Sans Serif, jenis huruf ini meliputi: Franklin Gothic, Futura, Gill Sans, Optima.
Seorang desainer komunikasi visual harus mampu memilih dan memainkan huruf-huruf tertentu dalam melakukan aktivitas perancangan. Ia harus menjadikan rangkaian huruf (kata atau kalimat) tidak sekadar bisa dibaca dan dimengerti maknanya. Tetapi lebih dari itu, seorang desainer komunikasi visual harus piawai menampilkan tipografi yang enak dipandang mata, dan lebih melancarkan pembaca dalam memahami makna pesan sosial ataupun komersial yang disampaikan melalui media komunikasi visual.
Dengan demikian, keberadaan tipografi dalam rancangan karya desain komunikasi visual sangat penting. Sebab melalui perencanaan dan pemilihan tipografi yang tepat baik untuk ukuran, warna, dan bentuk, diyakini mampu menguatkan isi pesan verbal karya desain komunikasi visual tersebut.
Menurut buku ‘’Social Communication” seperti dikutip Bebe Indah Miryam, ada beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya sebuah pesan verbal yang terkandung dalam karya desain komunikasi visual untuk dicermati, di antaranya: pertama, latar belakang. Yakni warna dasar dan tekstur kertas yang dipergunakan. Teks yang menjadi unsur utama dari sebuah pesan verbal akan terlihat jelas manakala keberadaan warna huruf dan latarnya cukup kontras.
Kedua, besar huruf yang digunakan. Ukuran standar teks antara 6 sampai 10 point, tergantung dari luas ruangan yang tersedia dan banyak sedikitnya teks hasil diadopsi dari keluarga huruf yang ingin ditampilkan.
Selain itu, Danton Sihombing (2001:28) mengingatkan, keluarga huruf terdiri atas berbagai kembangan yang berakar dari struktur bentuk dasar (regular) sebuah alfabet dan setiap perubahan berat huruf masih memiliki kesinambungan bentuk. Perbedaan tampilan yang pokok dalam keluarga huruf dibagi menjadi tiga bentuk pengembangan: (1) kelompok berat terdiri dari light, regular, dan bold. (2) Kelompok proporsi condesed, regular, dan extended. (3) Kelompok kemiringan yaitu italic.
Ketiga, spasi antarhuruf, kata maupun jarak antarbaris kalimat. Keempat, faktor-faktor subjektif seperti jarak baca maupun kualitas penerangan ketika membaca.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka ketika desainer komunikasi visual mahir menguasai tipografi untuk dipergunakan menyampaikan informasi yang bersifat sosial ataupun komersial, maka sejatinya sang desainer tersebut mampu memposisikan dirinya menjadi kurir komunikasi (visual) yang bertanggung jawab kepada masyarakat luas yang dijadikan target sasaran. Dengan menjadi kurir komunikasi yang baik - berkat pemilihan tipografi yang tepat dengan mengedepankan aspek readibilitas (dipengaruhi oleh ukuran huruf, jarak antarhuruf, dan jarak antarbaris yang terlalu dekat atau jauh) dan legibilitas (dipengaruhi oleh kerumitan desain huruf, penggunaan warna, tinta, dan kertas) yang akurat - maka masyarakat luas tidak akan terjebak pada perkara-perkara atau kasus-kasus mengarah pada belantara perbedaan persepsi yang akan menimbulkan bencana misscommunication!


*)Penulis: Sumbo Tinarbuko (http://sumbo.wordpress.com/), Konsultan Desain, dan Dosen Komunikasi Visual FSR-ISI Yogyakarta. Sekarang Kandidat Doktor FIB UGM.

Powered By Blogger